SEPUTAR AKAD

29 Januari, 2024

Memahami Akad :

Dalam bahasa Arab, istilah akad mempunyai beberapa arti, namun semuanya mempunyai arti yang sama yaitu mengikat dua hal. Kedua hal ini bisa bersifat konkret, bisa juga bersifat abstrak seperti akad jual beli.

Sedangkan dari segi syaratnya, akad adalah menghubungkan kehendak suatu pihak dengan pihak lain dalam suatu bentuk yang menimbulkan suatu kewajiban untuk melakukan sesuatu. Contohnya adalah akad jual beli.

Selain itu, akad juga mempunyai arti yang luas, yaitu keteguhan hati seseorang untuk berbuat sesuatu baik untuk dirinya sendiri maupun orang lain. Berdasarkan pengertian yang luas tersebut, maka nazar dan sumpah termasuk dalam akad.

Akad dengan makna luas inilah yang Allah inginkan dalam firman-Nya,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَوْفُوْا بِالْعُقُوْدِۗ
“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad itu.” (Qs. al Maidah: 1)”

Rukun Akad :

Ada tiga rukun akad, yaitu kedua belah pihak yang melakukan transaksi, obyek transaksi dan shighah/pernyataan resmi adanya transaksi.

Kedua pihak yang melakukan suatu transaksi adalah dua pihak yang secara langsung menangani suatu transaksi. Agar suatu akad atau transaksi sah, pihak yang melakukan transaksi tersebut haruslah orang yang dari sudut fiqh mempunyai kesanggupan untuk melakukan transaksi tersebut.

Dari sudut pandang fiqh, orang yang mampu melakukan transaksi adalah orang yang memenuhi kriteria sebagai berikut :

  1. Rusyd yaitu kemampuan untuk membelanjakan harta dengan baik. Kemampuan ini dimiliki oleh orang yang baligh, bukan anak kecil, dan berakal, bukan orang gila. Di samping itu orang tersebut juga tidak sedang di-hajr.
  2. Tidak dipaksa. Oleh karena itu transaksi yang diadakan oleh orang yang dalam kondisi dipaksa itu tidak sah kecuali jika pemaksaan yang dilakukan dalam hal ini memang bisa dibenarkan secara hukum syariat. Contohnya adalah penghutang yang menunda-nunda untuk melunasi hutangnya tanpa alasan

Objek Transaksi :

Yang dimaksud dengan objek transaksi adalah barang yang akan diperdagangkan dalam transaksi jual beli dan barang yang akan disewakan dalam transaksi sewa.

Agar suatu transaksi sah, objek transaksi harus memenuhi kriteria berikut:

  1. Barang tersebut merupakan barang suci (bukan najis) atau najis namun masih dapat dibersihkan. Oleh karena itu transaksi dengan benda najis seperti bangkai tidak sah.
  2. Benda-benda tersebut boleh digunakan dengan penggunaan yang dibolehkan syariat. Dapat digunakan dengan kegunaan yang dibolehkan syariat, yaitu asas untuk menilai apakah suatu benda termasuk harta atau tidak dan mempunyai nilai atau tidak. Oleh karena itu, benda yang tidak ada gunanya, seperti benda sepele yang tidak dilirik orang, tidak sah jika dijadikan objek transaksi.
  3. Dapat diserahkan. Oleh karena itu, objek yang tidak ada tidak dijadikan objek transaksi. Begitu pula dengan benda yang ada namun tidak dapat diserahkan. Benda-benda tersebut tidak sah dijadikan objek transaksi karena mengandung unsur gharar (ketidakjelasan).

  4. Telah sepenuhnya dimiliki oleh orang yang melakukan transaksi. Oleh karena itu, benda yang tidak dapat dimiliki tidak sah sebagai objek transaksi.

  5. Objeknya diketahui dengan jelas oleh orang yang melakukan transaksi secara langsung. Atau diketahui isi, jenis dan bentuk bendanya dalam suatu transaksi tidak langsung. Jadi dalam transaksi jual beli secara langsung, objek yang menjadi objek transaksinya wajib diketahui dengan jelas, misalnya jual beli mobil tertentu atau rumah tertentu.

Apabila syarat-syarat di atas telah terpenuhi maka transaksi atas obyek tersebut bersifat mengikat (baca: tidak dapat dibatalkan) apabila pada obyek transaksi tidak terdapat hal-hal yang menyebabkan timbulnya hak khiyar, seperti cacat pada barang.

Shighah

Yang dimaksud dengan shighah disini adalah ungkapan yang digunakan oleh pihak yang melakukan transaksi untuk menyatakan keinginannya. Ungkapan tersebut berupa kalimat yang menunjukkan terjadinya transaksi. Shighah terdiri dari ijab dan qobul.

Menurut mayoritas ulama, yang dimaksud dengan ijab adalah kalimat yang menunjukkan perpindahan kepemilikan. Sedangkan qobul merupakan kalimat yang menunjukkan sikap menerima peralihan kepemilikan. Jadi patokan ijab kabul adalah bila yang mengeluarkan pernyataan itu adalah orang yang dapat mengalihkan hak milik atas obyek akad, seperti penjual, orang yang menyewa, dan wali mempelai wanita. Suatu kalimat mempunyai nilai qobul jika dikeluarkan oleh pemilik baru objek akad, seperti pembeli, penyewa, dan mempelai pria.

Jadi parameternya bukan siapa yang mengeluarkan pernyataan pertama dan siapa yang kedua, melainkan siapa pihak yang mengalihkan kepemilikan dan siapa pihak yang menerima pengalihan kepemilikan.

Berbeda dengan pendapat ulama Hanafiyah yang mengatakan bahwa siapa yang pertama kali menyatakan, maka dialah yang mengajukan penawaran. Sedangkan pernyataan yang kedua adalah qobul, apapun isi pernyataannya.

Sumber : https://pengusahamuslim.com/

Share This Article

error: Content is protected !!
Scroll to Top