SYARAT AKAD JUAL BELI

19 Januari, 2024

Syarat-syarat sahnya suatu jual beli meliputi syarat pelaku akad dan syarat-syarat barang

PERTAMA, SYARAT-SYARAT ORANG YANG MENGADAKAN AKAD JUAL BELI :

  1. Keduanya sama-sama ridho, tidak ada unsur paksaan. Jika salah satunya terpaksa, maka syarat akad jual beli menjadi tidak sah Allah Azza Wa Jalla berfirman :

    Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta
    sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. (QS An-Nisa : 29) 
  2. Orang yang melaksanakan akad jual beli adalah orang yang diberi kuasa untuk itu. Syaikh Muhammad bin Shâlih al-Utsaimîn Rahimahullahuta’ala menjelaskan bahwa seseorang disebut berwibawa apabila ia mempunyai empat sifat, yaitu kemandirian, kedewasaan, akal sehat, dan rasyîd (Rasyiid artinya pandai mengatur hartanya, tidak menyia-nyiakannya pada hal-hal yang diharamkan. atau pada sesuatu yang tidak membawa manfaat (Lih. Syarhul Mumti’, 8/110) Berdasarkan hal tersebut, akad jual beli yang dibuat oleh orang yang tidak memenuhi kriteria tersebut dinyatakan tidak sah.

BAGAIMANA DENGAN AKAD JUAL BELI YANG DILAKUKAN OLEH ANAK KECIL

Syaikh Muhammad bin Shâlih al-Utsaimîn Rahimahullahuta’ala, berkata: “Transaksi yang dilakukan oleh orang-orang bodoh dan anak kecil tidak sah tanpa izin dari walinya, meskipun mereka masih remaja, berumur 14 tahun, berakal dan pandai berjual beli. ” Beliau berdalil dengan firman Allah Azza Wa Jalla :

Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), Maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. (QS An-Nisa : 6) (Syarhul Mumti’ 8/110)

3. Pemilik atau sebagai wakil dari pemilik. Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersada kepada Hakim bin Hizam Radhiyallahu’anhu : Janganlah engkau menjual sesuatu yang bukan milikmu (HR Ahmad 3/402,434 & Abu Dawud no. 3503)

Jika suatu transaksi terjadi padahal salah satu pelaku transaksi tidak mengetahui barang atau alat tukarnya, berarti terjadi ketidaktahuan (ketidakjelasan) itu gharar. Sedangkan jual beli yang mengandung unsur gharar yang berpotensi menimbulkan perselisihan dilarang dalam Islam dan tidak sah. Namun apabila unsur gharar (ketidakjelasan)nya kecil sehingga tidak berpotensi menimbulkan masalah di kemudian hari, maka akad jual beli tersebut sah.

Dengan memahami kondisi tersebut, kita juga akan mengetahui haramnya akad barang yang tidak jelas, seperti jual beli mulâmasah (sentuhan). Misalnya, penjual berkata, “Pakaian apa pun yang kamu sentuh, kamu dapat membayarnya dengan harga tersebut.”

Jual beli munâbabadzah, penjualnya berkata, “Baju apa pun yang kamu lemparkan kepadaku, aku akan membayar harganya.”

Dalam sebuah hadist shahih, Abu Hurairah Radhiyanllahu’anhu mengatalan Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam melarang dari jual beli mulâmasah dan jual beli munâbadzah (HR al-Bukhâri, no. 2146 dan Muslim, no. 3780)

Itulah beberapa syarat jual beli. Jika salah satu syarat tersebut tidak ada, maka akad jual beli tersebut tidak sah dan tergolong jual beli yang dilarang

Sumber : https://pengusahamuslim.com/

Share This Article

error: Content is protected !!
Scroll to Top